Keangkuhan ini…
Telah taklukkan hatimu…
Luluhkan jiwa… Amankan diri…
Membujukmu dalam indahnya…
Kesombongan yang butakan cinta…
Sadarku, telah mencabikmu…
Runtuhkan candi di palung jantungmu…
Yang sempat mematri asa…
Dan rasa bahagia…
Yang akhirnya menjadi air mata…
Serta ribuan luka…
Aku bukan orang sempurna…
Bukanlah Sang Pagi…
Apalagi keabadian…
Yang menggembirakan dirimu…
Menghadirkan asmara…
Seindah rupa bayi…
Terlahir penuh cinta…
Tapi cinta ini…
Sudah mengusir duri dunia…
Dan hinggap di bunga hatimu…
Hisapkan kata sayang…
Yang kutitahkan bermilyar kali…
Hingga putih di lidah…
Rapuhkan setiap kata percuma…
Terganti ungkapan cinta…
Boleh saja daku merendah…
Mengaku tak sempurna…
Tapi sebongkah khayal ini…
Telah tersaji di rantang kasihmu…
Dan disana terselip khilaf…
Yang harap ‘tuk kembali…
Mengisi dahaga hari…
Lalui penderitaan berlumur hina…
Dan mencintaimu untuk selamanya…
Kembalilah,
Dan jangan anggap remeh…
Aku kan tetap jadi Sang “Bukan Lelaki Biasa”…
(Bukan Kamar Biasa, 4 Juni 2010)